Portal Indonesia

Kementan Resmikan Klaster Di Jember, Untuk Dorong Diversifikasi Pangan Nasional

berita terkini
Kementan bersama Investor Australia dan Rektor Unej saat memperagakan mengupas singkong
ad

JEMBER,(suarajatimpost.com)  - Beras telah lama menjadi komoditas pangan yang paling pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, masyarakat beranggapan belum dikatakan makan kalau belum makan nasi.

Terkait diversifikasi pangan, Garjita Budhi Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan RI saat peresmian Klaster Mocaf di Dusun Krajan Desa Purwoasri menyampaikan, hingga kini sebagian besar masyarakat konsumsi karbohidrat berasal dari beras.

Padahal menurutnya, konsumsi karbohidrat tidak hanya beras salah satunya juga bersumber dari umbi umbian. "Agar tidak ketergantungan terhadap beras perlu adanya penurunan perkapita konsumsi beras antara lain pengembangan konsumsi singkong dan sumber protein lain, yang berasal dari umbi umbian,"  katanya, Rabu (31/08).

Upaya pengembangan singkong lanjut dia, perlu didukung karena nilai tambah terhadap singkong akan bertambah. "Selain menciptakan sumber  karbohidrat dengan upaya pengolahan ini, memudahkan petani mengolah hasil pertaniannya khususnya singkong," terangnya.

Kedepan kata dia, pihaknya menarget konsumsi beras terus menurun seiring inovatif pengolahan singkong dan umbi umbian bertambah. "Kementan akan terus berupaya diversifikasi pangan salah satunya pengolahan hasil dari singkong dan komoditas diluar padi lainnya," katanya.

Sementara itu Prof. Ahmad Subagiyo penemu teknologi Mokaf mengatakan, "Upaya tekhnologi Mokaf ini selain memanfaatkan lahan kering yang dimilki petani menjadi produktif, pemerataan pembangunan salah satu upaya terus dikembangkannya Klaster Chip Mocaf," ujarnya

Untuk mengembangkan tekhnologi tersebut ia mengaku menggandeng warga Negara Australia, dengan tujuan memberdayakan petani petani kecil yang berada di kawasan gersang menjadi lahan produktif.

"Mereka mempunyai program pemberdayaan petani kecil, dan itu pas dengan tujuan kita karena singkong yang notabene tumbuh di daerah lembab kini dengan teknologi ini dapat tumbuh di tanah pasir seperti di Pantai Puger, Pasirian dan akan terus dikembangkan ke area pesisir selatan yang lain," jelasnya.

Dari segi penyerapan tenaga kerja lanjutnya, dengan didirikannya klaster ini sedikitnya akan menyerap tenaga kerja 100 - 200 pekerja, "Kapasitas pengolahan singkong 300 ton ini harpannya dapat terus meningkatkan jumlah tenaga kerja di setiap klaster," tutupnya.

Reporter :
Editor :
ad
Berita Sebelumnya Inovasi Baru, SKCK Online Sidoarjo, Segera Di Lounching
Berita Selanjutnya Ditinggal Pergi Pemiliknya, Rumah Warga Widoro Payung Situbondo Ludes Dilalap Api 

Komentar Anda