Portal Indonesia

Kisah Seorang Difabel di Jember yang Pantang Menyerah

berita terkini
Abdul Azis saat akan menjemur irisan ketela.
ad

JEMBER, (portalbangsa.com) - Abdul Azis, warga Dusun  Bendelan RT 02/RW 02, Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, sedari lahir sudah ditakdirkan tak memiliki kedua tangan. Dalam kesehariannya ia mengandalkan kedua kakinya. Namun baginya tak ada kata menyerah dalam menjalani kehidupan. Ia kini bekerja di salah satu home industri yang memproduksi keripik ketela. Dalam 50 kilogram yang ia garap, ia mendapat upah Rp 15 ribu.

Kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh kasar, mengandalkan panggilan orang untuk mendapatkan upah yang dipekerjakan. Orang tuanya juga sembari menernak sapi, itu pun juga bukan miliknya, berharap suatu hari dijual dan mereka mendapatkan hasil.

Di usianya yang sudah menginjak 31 tahun,  Azis menyadari kebutuhan dalam keluarga sudah semakin banyak. Kini ia bertekad untuk mempunyai usaha sendiri dalam rumahnya. Namun kendala terletak pada modal dan teknis pemasaran yang nantinya ia geluti.

“Sebenarnya manusia kan pingin sukses. Ya itu kendalanyasatu  nggak ada modal , kalau ada modalnya yang mau dijual ke mana? Pikiran saya gitu, misalnya ada keripik sudah jadi, mau dijual ke mana? Kalau daerah sini kan sudah banyak yang jual. Nggak enak mau nitipin," ujarnya.

Ia bercerita pada waktu pertama kali ia diajak untuk ikut membantu dalam mengolah keripik ketela milik Andre, Warga Dusun yang sama dengan Azis.

Pada mulanya ia sering bermain di rumah saudaranya yang ia sebut Pak Haji, di rumah Pak Haji ia sering membantu mengolah dalam pembuatan keripik ketela, melihat hal tersebut, Andre tergerak untuk mengajaknya ikut membantu usaha yang dijalaninya.

”Ini kan tetangga saya lihat  kog bisa kerja kayak itu, lalu diajak. Kadang-kadang ngumpunya di sana bareng-bareng. Kalau buat gubit (ketela) bareng-bareng. Tapi normal semua, punya tangan semua, cuman saya yang nggak sama,” katanya dengan terkekeh menceritakan awal ia dipekerjakan membantu pekerjaan Andre.

Terhitung kira-kira sudah enam bulan ia menjalani profesi menjadi pengolah keripik ketela. Ia berkeinginan mempunyai usaha lain dan mandiri, namun ia lagi-lagi harus terkendala dengan modal.

Pernah ia belajar menekuni teknisi elektro pada tetangganya yang sudah cakap dalam dunia elektro, namun tetangganya tersebut tak bisa secara inten mengajarkan pada Azis tentang yang digelutinya, kesibukan yang menjadi kendala.

“Mau kerja apa, yang penting halal dan lancar. Entah elektro entah keripik. Mau kerja bangunan nggak bisa,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah Jember memperhatikan orang-orang sepertinya, memberikan pelatihan skill yang bisa dijadikan modal untuk mencari rezeki.

Reporter : Chairul Anwar
Editor :
ad
Berita Sebelumnya Suteni, Penderita Suspect Tumor Payudara Asal Situbondo Kini Dievakuasi
Berita Selanjutnya Untuk Menertibkan Administrasi Aset Milik Pemda, Bupati Sumenep Lakukan MoU Dengan DJKN Jatim 

Komentar Anda