sumber gambar: doktersehat.com

Hipertiroidisme adalah gangguan yang terjadi pada kelenjar tiroid di leher dalam memproduksi dan mengeluarkan banyak hormon tiroid dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Istilah lain yang sering dikatakan oleh dokter ialah adanya tiroid yang terlalu aktif. Hormon ini awalnya bertugas dalam pengendalian proses metabolisme dalam tubuh, seperti mengatur denyut jantung, pengatur suhu tubuh, dan mengubah makanan menjadi energi yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Namun karena hormon yang dihasilkan terlalu banyak justru menjadi bomerang untuk diri sendiri sehingga mengakibatkan penyakit hipertiroidisme.

Faktor risiko bagi pasien hipertiroidisme ialah kebanyakan berjenis kelamin perempuan, berusia lebih dari 60 tahun, menderita penyakit kronis, dan dalam keluarganya ada yang mengalami penyakit graves. Halodoc.com menyatakan bahwa penyakit graves menjadi penyebab utama timbulnya penyakit ini, yaitu 60 – 80%. Adapun penyebab dari penyakit ini beraneka ragam, baik dari penyakit pembawa ataupun masalah organ tubuh lainnya, antara lain seperti yang dijelaskan di bawah ini.

  1. Kanker tiroid.
  2. Peradangan pada kelenjar tiroid.
  3. Tumor jinak di kelenjar pituitari (hipofisis).
  4. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang memiliki zat iodium tinggi (telur, seafood, dan produk susu). Tak hanya itu, obat yang mengandung iodin tinggi juga dikonsumsi, misalnya amiodarone.
  5. Penyakit graves yang disebabkan oleh adanya penyerangan yang dilakukan oleh sistem imun tubuh terhadap sel normal.
  6. Adanya tumor di dalam ovarium atau testis.

Anda sebaiknya waspada jika menemukan atau mengalami gejala di bawah ini jadi lekaslah pergi ke dokter. Gejala yang ditimbulkan dari hipertiroidisme adalah sebagai berikut.

  • Mudah berkeringat dan gerah
  • Jantung berdebar kencang, mencapai 100 denyut/menit
  • Rambut rontok
  • Diare
  • Penglihatan terganggu atau ganda
  • Gelisah dan khawatir
  • Mudah marah
  • Aritmia (denyut jantung tidak normal) seperti yang dilansir dalam laman Havard Medical School.
  • Iritabilitas
  • Fokus dan konsentrasi menurun
  • Susah tidur
  • Disforia
  • Berat badan menurun drastis namun nafsu makan justru meningkat
  • Tangan bergemetar (tremor)
  • Polyuria
  • Masalah menstruasi pada perempuan, termasuk pendarahan ringan dengan periode tidak pasti.

Selain gejala yang dirasakan oleh pasien seperti beberapa poin di atas, ternyata ada tanda fisik yang mudah dikenali oleh semua orang, antara lain sebagai berikut.

  • Kemerahan pada telapak tangannya.
  • Bola mata cukup menonjol (penderita graves).
  • Terjadinya pembesaran pada kelenjar tiroid. Kita mengenalnya sebagai penyakit gondok.
  • Tekanan darah mengalami peningkatan.
  • Adanya biduran dan ruam pada kulit penderita.

Perlu anda ketahui bahwa tidak semua penyakit ini memiliki gejala atau tanda-tanda. Ada beberapa jenis hipertiroidisme yang tidak memiliki gejala. Contohnya pada kasus hipertiroid subklinis. Kasus ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah hormon TSH yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis tanpa adanya hormon tiroid yang terkandung di dalamnya. Apakah ini berbahaya? Jangan khawatir sebab umumnya penderita akan kembali pulih normal tanpa adanya pengobatan khusus.

Dianjurkan untuk sering cek tenanan darah anda setidaknya 6 bulan sekali. Akan lebih baik lagi jika sering berdiskusi dengan dokter mengenai keluhan kesehatan anda. Dokter akan melakukan diagnosis terhadap anda agar dapat diketahui penyebab penyakit anda sehingga dapat disembuhkan secepatnya. Berdasarkan artikel pada alodokter.com, kasus terburuk dari hipertiroidisme adalah timbulnya komplikasi thyroid storm atau krisis tiroid. Jadi secepatnya bawa ke IGD apabila anda mengalami gejala demam, penurunan kesadaran, dan diare ketika melakukan pengobatan penyakit ini. Tak hanya itu, hipertiroidisme juga berbahaya bagi ibu hamil karena akan menimbulkan berbagai penyakit komplikasi seperti keguguran, preeklamsia, kelahiran prematur, dan lain-lain. Bayi dapat lahir dengan sehat namun memiliki berat badan lahir yang rendah.